Jumat, 04 April 2008

Mendaki Gunung Sibayak



Mengungkap Kesohoran Gunung Sibayak
Ditulis Oleh Alto Belli. Ginting
Image

bagi para pendaki gunung di Sumatera utara (Sumut), mendaki gunung Sibayak merupakan salah satu pilihan yang menyenangkan. Rupanya, selain namanya cukup terkenal di Sumut, Sibayak juga menjadi "gunung incaran" para pendaki. Bak seorang Bidadari, nama Sibayak harum bagaikan bunga. Selain nama yang disandang Sibayak cukup terkenal, gunung yang dimilikinya-pun tidak kalah megah dari pengunungan api lainya. Panorama yang tersebar tiada henti disepanjang pendakian menuju puncak turut mengingatkan kita akan kebesaran sang pencipta. Setiap kali orang mendengar nama Sibayak pasti yang terpikir dalam benak mereka adalah kemegahan dan ketersohoran nama gunungnya sampai ke penjuru bumi. Bahkan nama dari salah satu "Hotel berbintang empat" di kota Berastagi, bernama 'Hotel Sibayak.' Sepertinya nama Sibayak mempunyai kebanggaan dan keindahan tersendiri bagi yang menyandangnya.

Selasa, 01 April 2008

Sibayak & Sidebuk_Debuk

Pesona Sibayak Menantang Nyali


ALTO BELLI. Ginting
Lima kolam Lau Debuk - Debuk bersumberkan mata air dari perut bumi dan mengandung unsur belerang. Selain terasa hangat, air panas tersebut juga dapat mengobati penyakit gatal-gatal bagi pengunjung.


Oleh Alto Ricky_JoSampai saat ini sepertinya Gunung Sibayak tidak akan habis-habisnya didaki oleh pencinta alam yang datang dari berbagai pelosok daerah. Pada hari-hari tertentu lokasi wisata penuh petualangan ini seperti layaknya pasar malam. Lautan manusia tumpah bersama lampu, lilin yang memancarkan keindahan ketika malam hari. Deru angin yang dingin menambah pesona Gunung Sibayak bertambah menarik untuk dikunjungi.

Gunung Sibayak (2094 mdpl) secara administratif terletak di Desa Raja Berneh atau lebih dikenal dengan sebutan Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Karo (60 KM dari Kota Medan). Daerah yang berada di kaki Gunung Sibayak merupakan kawasan pertanian yang bercocok tanam sayuran dan hortikultura lainnya. Tidak salah kalau lokasi ini menjadi salah satu daerah tujuan agrowisata yang ada di Sumatera Utara.
Jalan menuju lokasi Gunung Sibayak tidak terlalu sulit. Pendakiannya tidak membutuhkan teknik khusus. Bahkan pendaki pemula akan dengan mudah mencapai puncak serta menikmati embusan angin berbau belerang yang keluar dari kawah Gunung Sibayak. Dari Kota Medan, lokasi ini bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. Tarifnya bervariasi antara Rp7000—Rp9000 sekali pergi. Sementara itu, titik pendakian menuju Gunung Sibayak ada di beberapa lokasi, di antaranya kawasan jalur Lima Empat. Disebut jalur Lima Empat karena lokasi ini berada pada posisi KM 54 dari Kota Medan. Jika perjalanan diawali dari jalur Lima Empat kita dapat menikmati santapan jagung bakar atau rebus sebelum melanjutkan perjalanan. Dari titik ini perjalanan menuju puncak Gunung Sibayak dapat ditempuh dengan waktu 3-4 jam.
Selain udara sejuk, jagung rebus dapat dinikmati dengan harga yang terjangkau berkisar Rp 2000 per buahnya. Tidak jauh dengan lokasi ini, juga dapat melihat Air Terjun Sikulikap yang memiliki ketinggian di atas 10 meter. Pendek kata kita dapat menikmati suasana tersebut untuk mendapatkan kepuasan dengan biaya yang terbilang ekonomis. Jalur pilihan yang juga biasa dipergunakan adalah jalur Simpang Doulu atau jalur tangga yang berada di Desa Semangat Gunung. Dari jalur ini, perjalanan relatif lebih pendek sekitar 3 jam dengan menempuh jalur tangga yang selama ini menjadi jalur yang ramai dilintasi. Sebelum beranjak menuju puncak Gunung Sibayak, di kawasan Doulu akan ditemukan lokasi pemandia air panas yang bersumber dari kawah Gunung Sibayak. Sedangkan jalur lintasan lainnya adalah jalur pariwisata dari Kota Wisata Brastagi dengan jarak tempuh 5 jam, dan jalur dari Kecamatan Sibolangit yang membutuhkan waktu perjalanan tiga hari.
Setelah sampai di Puncak Gunung Sibayak, pengunjung dapat menikmati pesona dan gugusan bebatuan serta kawah yang mengembuskan asap berbau belerang. Pagi hari kita bisa menyaksikan keindahan matahari pagi yang menyemburkan sinar di sela-sela bebatuan yang ada. Sementara sore harinya kita akan menyaksikan keindahan lembayung senja sambil menunggu matahari menuju peraduannya di ufuk Barat. Dari puncak Gunung Sibayak terlihat juga dari kejauhan beberapa perkampungan di bawahnya serta puncak Gunung Sinabung yang memang berdampingan dengan Gunung Sibayak.
Selain Gunung Sibayak, di daerah ini amatlah banyak daerah yang dapat dijadikan tempat berekreasi dengan satu spesifikasi keindahan alam dan kesejukan udaranya. Tidak mengherankan kalau menjelang akhir tahun atau hari libur penginapan serta hotel yang berada di kawasan tersebut padat. Di daerah Karo Simalem bukan hanya itu yang dapat kita nikmati, pemandangan dan gugusan pegunungan yang berada di dataran tinggi yang sejuk juga telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kawula muda.
Setidaknya sampai hari ini ada dua lokasi yang sering dikunjungi oleh banyak orang, yaitu Sibayak dan Sinabung. Kedua lokasi ini tetap menjadi primadona dengan sajian panorama dan kesejukan yang hampir tidak jauh berbeda. Namun, di lokasi Sinabung tersebut kita akan menemukan danau air tawar yang juga memberikan keindahan tersendiri. Tidak jarang pendatang akan berulang kali mengunjungi lokasi tersebut.






Mandi Sauna
Desa Semangat Gunung pasti sudah melekat di hati mereka yang memiliki hobi jalan dan berendam dengan air panas belerang. Berada di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanahkaro, kawasan ini menjadi pilihan wisata akhir pekan bagi keluarga. Dengan balutan udara sejuk karena berada di kaki Gunung Sibayak, daerah kunjungan wisata ini dianugerahi air panas belerang. Ali mengalir sepanjang masa dengan balutan panorama eksotis yang menyajikan suasana indah, tenang serta damai.
Wisata akhir pekan menjadi agenda wajib bagi semua kalangan untuk menghilangkan kejenuhan. Beberapa daerah tujuan wisata yang relatif terjangkau menjadi sasaran utama penghilang stres. Bagi mereka yang hobi berpetualang mungkin bisa melakukan tracking atau mendaki gunung yang berada di kawasan Brastagi. Tetapi ada juga melirik pemandian air panas belerang yang berada di Lau Debuk-debuk menjadi sasaran utama dan terakhir.

Kawasan Lau Debuk-debuk merupakan daerah pegunungan yang berjarak sekitar 10 Km dari Kota Brastagi, sementara dari Medan berjarak 60 Km dengan tinggi 1500 mdpl. Di sana, banyak pusat pemandian air panas ini berada, dikelilingi dengan lahan-lahan pertanian warga Desa Semangat Gunung. Hamparan luas nan menghijau biasanya akan menjadi menu utama sajian panorama ketika berada di daerah ini. Jika beruntung, Anda bisa melirik puncak Gunung Sibayak yang memperlihatkan ketandusannya. Desa Semangat Gunung adalah desa terakhir ditemukan ketika mendaki gunung melalui jalur ini.
Perjalanan menuju objek wisata ini tidak terlalu sulit karena transportasi umum gampang ditemui dengan ongkos pasti terjangkau. Sedangkan dengan mobil atau sepeda motor pribadi juga bisa ditempuh tanpa banyak rintangan karena jalannya sudah beraspal. Setelah sampai di kawasan ini tinggal menentukan lokasi pemandian yang akan dipergunakan. Ada sekitar tujuh pusat pemandian air panas (hot spring) yang telah kelola secara modern dan dilengkapi fasilitas semipermanen. Sedangkan satu lokasi pemandingan dikelola secara tradisional oleh pihak Pemda setempat.
Sebenarnya objek wisata ini merupakan pemandian air panas yang mata airnya bersumber dari perut bumi dan mengandung unsur belerang. Selain terasa hangat, air panas tersebut juga dapat mengobati penyakit gatal-gatal bagi pengunjung yang datang. Sehingga tidak salah kalau berendam dengan air hangat belerang bisa dijadikan sebagai pengganti mandi sauna.
Objek wisata air panas Lau Debuk-debuk memiliki kekhasan tersendiri dengan yang lainnya. Walau terlihat sederhana, lokasi yang memiliki 5 kolam besar yang dibatasi dengan tembok semen banyak dikunjungi orang. Bukan hanya dari Medan, Langkat atau Deliserdang, pengunjung yang datang berasal dari luar daerah bahkan dari Jawa dan Kalimantan. ”Turis asing juga sering datang kemari,” ungkap salah seorang pekerja yang berada di pemandian air panas Lau Debuk-debuk..
Di sekitar pemandian air panas Lau Debuk-debuk, jangan merasa heran jika Anda menemukan banyak tempat untuk meletakkan sajian atau pemujaan. Tidak jauh dari sumber air panas utama akan ditemukan sumur yang dijadikan sebagai tempat pemujaan dan meletakkan sajian. Selain itu pengunjung yang datang juga sering melepaskan ayam putih sebagai bentuk kepercayaan dan niat karena satu permintaan atau permintaan yang telah dikabulkan. Sedangkan air berada di sumur tersebut sering dibawa pulang dengan jerigen sebagai oleh-oleh sekaligus dipercayai untuk obat.
Sedangkan pada waktu-waktu tertentu akan dilaksanakan kegiatan ritual seperti Erpangir Ku Lau (mandi ritual). Kegiatan ritual dilaksanakan biasanya bertujuan membersihkan diri dari roh-roh jahat dan niat-niat yang tidak baik. Kegiatan seperti ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi turis dan pengunjung dari luar daerah. Sehingga kegiatan ritual seperti ini biasanya akan dimeriahkan oleh pendatang dari luar kota ke objek wisata ini.
Selain lokasi pemandian air panas yang sengaja dikelola secara tradisional, saat ini juga bermunculan lokasi pemandian air panas semipermanen. Dari catatan, ada sekitar 5 lokasi tempat pemandian yang dikelola secara profesional, di antaranya pemandian air panas Karona Family, Alam Sibayak, Panorama, Rindu Alam dan lainnya. Lokasi pemandian ini dipermak dan dipoles seindah mungkin, tetapi sumber air panas tetap berasal dari aliran Gunung Sibayak. Sedangkan temperatur air panas yang berada di pusat-pusat pemadian air panas di Desa Semangat Gunung antara 27-35 derajat Celsius.
Sama halnya seperti lokasi pemandiang air panas di tempat lain, bagi pengunjung yang masuk diwajibkan membayar retribusi sebagai tanda masuk. Retribusi pertama akan ditemukan ketika memasuki lintasan jalan menuju Desa Semangat Gunung sebesar Rp 2.500 setiap pengunjung. Selain biaya parkir, kocek yang perlu dikeluarkan ketika memasuki lokasi pemandian dengan tarif berbeda di setiap lokasi pemandian.***

Penulis adalah Mahasiswa AMIK MBP pecinta pesona alam kampung Halaman








Copyright © www.altoginting.blogspot.com

Gunung Sinabung Dari Bukit Gundaling


Gunung Sinabung adalah nama sebuah gunung di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sinabung bersama Sibayak di dekatnya adalah 2 gunung berapi aktif di Sumatera Utara. Dengan ketinggian 2.460 meter, gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara.

Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 3 derajat 10 menit LU, 98 derajat 23 menit BT.


Pernah sih saya mendaki gunung yang sangat mempesona itu, Walaupun hanya 3 kali namun memberikan kesan tersendiri buat aku.
Karena jarang-jarang lho bisa sampai kepuncaknya.
Karena sangat banyak faktor penghalang untuk menuju sampai ke puncaknya, selain kondisi tubuh yang fit dan bekal yang cukup mungkin kita juga harus memperhatikan faktor "alam" dan "mbah dukun".

jadi pengen lagi naek seh tapi gimana lagi dah tugas dari kampus menumpuk, kerjaan juga dah berserakan, mungkin nanti pas libur semester ini jadi naek gunung Sinabung atawa Sibayak lah!.

Panorama di puncak gunung sinabung tidak kalah indahnya, puncak kedua tertinggi di Sumatera utara (Sumut) itu mempunyai ketinggian 2.451 m.dpl. Satu-satunya gunung di Sumut yang berkakikan Danau hanya ditemukan di Sinabung. Danau lau Kawar memiliki pesona alam yang begitu memukau apalagi danau itu bagai dijaga puncak Lancuk. Lancuk adalah salah satu puncak tinggi karo yang bertetangga dengan gunung Sinabung. Sinabung merupakan gunung api dengan tipe Strato atau berlapis.
http://www.tanahkaro.com/simalem/images/stories/foto_berita/kawahsibayak.jpg
Mendaki Sinabung merupakan pilihan yang tepat untuk menghilangkan kejenuhan. Sepanjang pendakian menuju puncak masih ditemukan hutan tropis yang indah alami.Hamparan ladang penduduk yang ditumbuhi sayur,buah dan bunga-bungaan yang berwarna-warni. Dalam perjalanan di hutan, kita juga akan merasakan bau khas daun-daun dan pepohonan yang akan ditemui didalam hutan tropis. Selain itu, kita akan mendengar kicauan burung-burung yang begitu mengoda kita untuk mengamatinya lebih dekat dengan mengunakan teropong (binocular). Hampir mencapai puncak akan melalui tantangan berat jalan setapak bebatuan yang kiri-kanan jurangnya cukup curam.
Selengkapnya...

Kampoeng Halaman


Menunggu Peceren Tinggal Kenangan


(Alto belli Ginting april 1 2008)

Desa Peceren sejak lama disebut-sebut sebagai desa wisata budaya. Alasannya masuk akal, desa ini merupakan salah satu dari tiga desa yang mewakili sejarah peradaban dan budaya Karo. Desa lainnya, Lingga dan Dokan. Hal ini ditandai dengan masih berdirinya rumah adat Si Waluh Jabu, rumah adat berusia ratusan tahun yang menyiratkan kekayaan adat masyarakat setempat. Hanya saja, sebutan itu sungguh ironis jika melihat langsung kondisi Desa Peceren saat ini.

“Saya rasa, sebutan desa wisata budaya itu tidak layak lagi untuk Peceren. Itu tempo doeloe.” Demikian pendapat Purba, salah seorang penduduk setempat. Sungguh ironis memang. Pasalnya, gambaran sebuah desa yang potensi wisatanya kerap dijual lewat publikasi ataupun melalui “booklet-booklet tourism” ke seluruh pelosok negeri bahkan manca negara itu sering membuat turis “kecewa”. Hal ini terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara apa yang digambarkan lewat publikasi dengan gambaran yang sesungguhnya.

Mengapa demikian? “Pengunjung sering terkejut. Mereka tidak menyangka kondisi sebenarnya seperti ini. Sangat bertentangan dengan apa yang dipaparkan dalam “booklet-booklet” pariwisata itu. Inilah kondisinya. Tak terawat. Lantas,masih pantaskah ini disebut desa budaya?,” katanya menunjukkan rumah adat yang menjadi daya jual utama desa berpenduduk 700 kepala keluarga itu. “Jika memang desa ini disebut-sebagai desa budaya, mengapa kondisinya dibiarkan seperti ini. Ya, seharusnya dibenahi dong,” tambahnya

Dalam buku panduan pariwisata yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karo tertulis gambaran: “Wisata Budaya…. Desa Peceren merupakan desa kecil di pinggiran Kota Berastagi yang didiami kira-kira 700 keluarga. Nama resmiya adalah Desa Sempa Jaya. Peceren memiliki 6 rumah adat tradisional Karo dan yang masih digunakan ada 4 rumah. Rumah tertua kira-kira berusia 120 tahun. Kita dapat mengunjungi dan melihat bagaimana warga yang hidup di dalamnya. Untuk mencapai Peceren kita dapat menggunakan transportasi lokal tujuan Medan ataupun dengan berjalan kaki.”

Sayangnya, gambaran desa budaya Peceren pada buku panduan wisata yang dikeluarkan pada 2007 itu, tak lagi sesuai. Berdasarkan pantauan Global, rumah adat Si Waluh Jabu yang tersisa hanya 3 rumah. Dua di antaranya masih didiami, sedangkan sisanya tak berpenghuni lagi. Malah, kini dibiarkan begitu saja oleh sang pemilik. Pintuya terbuka begitu saja, tangga rumah tak ada lagi. Bahkan, kondisi rumah ini menciptakan kesan memprihatinkan. Sayang sekali peninggalan sejarah budaya seperti ini dibiarkan begitu saja.

Memang, akhir-akhir ini geliat pariwisata Karo tak seperti dulu lagi atau nyaris tak bergeming. Hal ini dapat terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang tahun demi tahun belakangan ini semakin menurun. Buktinya, dari data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata setempat, tercatat penurunan drastis dari tahun 2003 hingga 2006.

Pada tahun 2003 tercatat 400.231 kunjungan wisatawan. Dari jumlah itu hanya 6.557 yang berasal dari mancanegara. Jumlah ini kemudian menurun pada tahun 2006 menjadi 283.563 dan hanya 4.665 orang di antaranya yang berasal dari mancanegara. Dan diperkirakan 30 persen dari jumlah kunjungan tidak memasuki objek wisata.

“Kalau dulu, tahun 1998 ke bawah, paling tidak 3 – 6 mobil travel singgah di sini setiap hari. Saya malah pernah menikmati kejayaan itu. Soalnya jika wisatawan ramai datang, tak sedikit yang memberikan tips jika diantarkan berkeliling melintasi desa setelah melihat-lihat rumah adat,” ujar Purba.

Selain Peceren, desa lainnya yang memiliki peninggalan yang sama adalah Desa Lingga dan Dokan. Terakhir, tarif masuk ke lokasi Desa Lingga sudah dihapuskan. Meski demikian, objek ini pun tak kalah sepi.

Pergeseran nilai budaya

Peceren termasuk salah satu dusun bagian wilayah Desa Sempa Jaya. Sempa Jaya sendiri memiliki 10 dusun. Penduduknya, kira-kira 6.000 kepala keluarga atau sekitar 20 ribu jiwa. Mayoritas penduduknya bertani sayur-sayuran. Tanahnya subur dan cuacanya sejuk. Dan, memiliki panorama alam yang masih alami.

Tak dapat disangkal pula bahwa pergeseran nilai budaya turut merembes di desa ini. Hal ini juga ditandai dengan semakin jarangnya diselenggarakan ritual-ritual budaya lama. Meski masih ada tradisi yang masih bertahan hingga kini, ritual pesta buah atau pesta tahunan di mana warga setempat merayakan masa panen, tradisi itu sudah dipengaruhi budaya modern yakni dengan masuknya unsur musik modern di dalamnya.

“Saat ini sudah jarang diselenggarakan musik-musik tradisional yang menampilkan atraksi asli budaya Karo. Yang sering malah musik keyboard. Maka, sangat disayangkan pula jika generasi-generasi sekarang tidak lagi mengenal dan mencintai tradisi budayanya sendiri,” ujar Teger Bangun, salah seorang petani setempat.

Pergeseran lainnya, juga terdapat dari nilai budaya yang “dijual” di Desa Peceren, yakni Rumah adat Si Waluh Jabu yang merupakan salah satu peninggalan budaya Karo, yang nilai-nilai keasliannya pun kini sebenarnya sudah mulai bergeser.

Masuk akal memang. Soalnya dalam rumah ini, sesuai hukum adat yang berlaku, lazimnya didiami lebih dari satu keluarga. Jika melihat situasi modern saat ini, tentu sungguh tidak nyaman mendiaminya. Maka tak heran pula jika kini rumah Si Waluh Jabu sudah tidak didiami penghuni aslinya atau pemilik yang didasari garis keturunan orangtua terdahulu. Dua rumah yang tersisa kini disewakan kepada siapa saja, termasuk pendatang.

“Lagipula, tinggal di rumah Si Waluh Jabu penuh dengan aturan-aturan adat yang ketat. Kadang-kadang aturan itu tidak sesuai lagi jika melihat zaman modern seperti sekarang ini,” ujar Boru Sitanggang salah satu penghuni yang sudah mengontrak selama 4 tahun dengan suaminya bermarga Sembiring beserta seorang anaknya yang masih kecil. “Jika tidak dalam kondisi perekonomian yang terpaksa, sebenarnya kami tidak tinggal di sini,”tambahnya.

Untuk memperbaiki sebagian atap yang bocor, ia bersama pengontrak lainnya terpaksa patungan untuk mengumplkan biaya pengganti ijuk menjadi atap rumbia.

“Saya tidak tahu mengapa tak ada perhatian pemerintah kepada rumah adat ini. Padahal katanya desa ini disebut sebagai desa wisata budaya. Sebenarnya, rumah adat ini sudah sering disorot media maupun para peneliti dari universitas, tapi nampaknya sia-sia. Saya tidak tahu apakah rumah adat ini akan dibiarkan punah begitu saja,” tambahnya.

Pembenahan rumah adat Si Waluh Jabu memang membutuhan biaya yang tidak sedikit. “Paling tidak dibutuhkan 500 juta per unitnya,” kata Kepala Bidang Pemasaran, Promosi dan Bina Usaha Pariwisata Kabupaten Karo, Piala Putera SE, ketika dikonfirmasi beberapa waktu yang lalu.

Tinggal kenangan? Barangkali, prediksi itu bukan sekadar isapan jempol. Pasalnya, meski dalam paparan program kerja Dinas Pariwisata Kabupaten Karo tahun 2007, disebutkan bahwa Desa Peceren termasuk salah satu objek wisata yang akan dibenahi tahun ini, namun realisasinya belum juga terlihat.

“Program yang terpapar dalam satuan kerja itu akan dibahas lagi. Tentu akan diprioritaskan objek mana yang lebih diutamakan karena anggaran yang tersedia dari APBD untuk sektor pariwisata cukup terbatas,” tambah Kepala Seksi Pengawasan dan Perizinan Usaha Pariwisata Karo, Kasman Sembiring.

Desa wisata budaya Peceren adalah salah satu aset peninggalan budaya yang kini dalam penantian. Penantian akan perhatian dari tangan pihak yang peduli dengan nasibnya. Alsaan in cukup berdasar. Pasalnya seperti yang kemudian dikatakan Piala Putra,” Si Waluh Jabu adalah milik rakyat, jadi tidak sepenuhnya ditimpakan kepada pemerintah.”

Jika penatian itu tak berbuah, barangkali Purba benar,”Desa Peceren hanya akan tinggal kenangan”. Tak heran pula jika kini jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Kini, Desa Peceren pun mulai bergerak sesuai arus — modernisasi. Sebagian Si Waluh Jabu kini telah berubah wujudnya menjadi rumah beton.

Dan dengan menjamurnya perumahan dan villa membuat peceren semakin jauh dari struktur desa adat, dan juga hadirnya rumah bordil yang disebut dengan "SARIKOTO",
maka semakin rusaklah desa yang selama ini diagungkan.
saya selaku putra kelahira Peceren semakin pedih melihat akan hal ini.

Minggu, 09 Maret 2008

Bagonk_Narsisszz ( Ricky_Jo)



Dari hari ke hari, tak ada yang menemani ku selalu sendiri terpenjara kaya gini. Adakah seseorang yang bisa menemani aku didalam kesepianku. mungkin inilah yang disebut dengan "ROLEX" Resiko Orang Jelekxxxxx kali yah!!.
hehehehehehehe.